Tak bisa ku buat lara menjadi bahagia.
Ataupun kecewa menjadi tawa,
Apalagi amarah menjadi anugerah .
Apalah daya bibir ini tak mampu untuk berucap,
Mata yang tak henti menatap,
Tangan yang tak mampu menangkap,
Dan jantung yang terus bederap ,
Rintikan hujan di sore ini,
Mengisyaratkan hati yang sedang tak bisa berdamai,
Apakah aku mulai bosan dengan semua ini?
Ataukah aku hanya sedang bermain dalam khayal imajinasi,
Entahlah ,.
Kadang akupun hanya larut dalam kesendirianku,
Dalam lamunan yang terus berkepanjangan Memandang jauh lautan kesedihan,
Semakin dalam dan semakin dalam Kadang aku berfikir ,
Aku hidup hanya sekedar mampir,
Tapi kenapa harus terlalu kencang berlari seperti tersambar petir,
Terlalu kaku untuk berfikir , bahwa hidup hanya sekedar parkir.
Teringat kamu yang menjadi benalu dalam emosiku. Menjadi api yang tak mampu aku pandamkan oleh rasaku, Menjadi air yang mengalir tanpa pernah tersudahi oleh asaku,
Menjadi bayangan yang tak pernah bisa ku tinggalkan oleh ragaku
Tak mampuku merangkai kata seindah cahaya senja di sore ini,
Menantimu diujung hariku membuatku mampu menyadari ,
Betapa aku begitu mengagumi sosokmu sang penyejukk hati.
Bicara tentang rasa,
Memang aku bukan jagonyaa
Aku bukanlah pujangga
Bukan pula sang wanita yang mampu merangkai romantise menjadi candu di setiap episode,
Apalagi menghujanimu dengan tatapan mesra yang selalu bermetamorfose,
Menjadi apapun itu di hidupmu ,
Aku hanya tahu dan percaya satu,
Mengagumi tanpa kamu tahu,
Mungkin itu caraku lebih dekat denganmu,
Aku hanyalah aku yang masih menanti ,
Mengagumi dalam hati,
Mendoakanmu dalam setiap sujud malam ini Memenangkan hati atas ridho ilahi,
Bila asaku mulai reda ,
aku hanya bisa berharap kamu yang mulai menemukanku lewat doa dan usaha ..
Sampai jumpa hey kamu yang masih disana ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar